Makalah Ilmu Sosial Dasar
KURANGNYA
PERHATIAN MASYARAKAT UMUM TERHADAP PELESTARIAN BUDAYA BETAWI
KELOMPOK 1
ABDUL
KHOLIQ 10117017
ADAM
KUSUMA PUTRA 17117312
ADRIAN
PUTRA PRATAMA 10117201
BRADLEY
DENELSKY 17117234
DESI
ERINA SITOMPUL 11117560
FARIS A PRAKOSO 12117208
SAMUEL DEVRIONALDO 15117490
ZELIN GAA NGILO 16117400
Universitas Gunadarma
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informas
2017/2018
2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya paper yang
berjudul “Kurangnya Perhatian Masyarakat Umum Terhadap Pelestarian Budaya
Betawi”. Tidak lupa kami juga mengucapkan limpah terimakasih atas bantuan dari
pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.
Dan
harapan kami semoga paper ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
paper ini agar lebih baik lagi.
Kami
menyadari bahwa paper ini tidak lepas dari kesalahan dan masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan paper ini.
Depok,
Januari 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi
ini sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Seperti
mempengaruhi pola pikir, gaya hidup, cara berpakaian penduduk, masyarakat dan
kebudayaan Indonesia. Dari waktu ke waktu banyak kebiasaan masyarakat Indonesia
yang perlahan hilang bahkan hampir musnah karena masyarakat sekarang ingin
terlihat lebih modern dan trendy.
Selain itu, karena pesatnya perkembangan teknologi
saat ini membuat budaya tradisional ditinggalkan para penerus bangsa. Bila
tidak dilestarikan, kemungkinan budaya dari nenek moyang kita akan punah dan
tidak dapat diwariskan pada generasi-generasi berikutnya. Kali ini kami lebih
membahas tentang salah satu kesenian yaitu Ondel-ondel yang berasal dari
Betawi.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah kesenian ondel-ondel ini masih
dikembangkan, dan bagaimana respon penduduk sekitar ?
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk
mengetahui bagaimana respon penduduk sekitar dan untuk lebih mengenal
kebudayaan betawi yang mulai hilang. Serta untuk kembali melestarikan kesenian
ondel-ondel yang mulai hilang di daerah aslinya sendiri, karena banyak penduduk
betawi sudah tidak tinggal lagi di Jakarta.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kajian Literatur
Suku Betawi adalah sebuah suku bangsa di Indonesia
yang penduduknya umumnya bertempat tinggal di Jakarta. Namun pada saat ini ada
banyak suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Melayu,
Minang, Batak, dan Bugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak
tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke
wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya
Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya
barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikan cagar budaya di Situ
Babakan.
Kali ini kami aan membahasa salah satu kesenia
Betawi yaitu Ondel-Ondel. Namun sebelum dikenal sebagai kesenian khas Betawi,
Ondel-Ondel adalah penolak bala atau kesialan. Kesenian Ondel-Ondel yang
dikenal beradab-abad lampau dulunya dimaksudkan untuk mengusir roh jahat.
Konon, bentuk Ondel-Ondel adalah personifikasi dari leluhur masyarakat Betawi
yang senantiasa menjaga keturunannya, anak cucunya atau penduduk suatu desa
dari gangguan roh halus. Tidak heran alau bentuk Ondel-Ondel jaman dulu
terkesan sangat menyeramkan.
Boneka besar itu dulu dikenal dengan nama
‘Barongan’. Oleh karena itu, membuat Ondel-Ondel tidak bisa sembarangan. Dibutuhkan
sesajen berisi bubur merah-putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga tujuh macam,
serta asap kemenyan. Ketika sudah selesai dibuat, Ondel-Ondel juga diberikan
sesajen dan dibasuh dengan asap kemenyan yang disertai dengan mantera-mantera.
Tak hanya itu, pemain ondel-ondel juga senantiasa melakukan ritual pembakaran
kemenyan. ‘Ngukup’ begitulah masyarakat Betawi menyebut ritual tersebut.
Pembuatan Ondel-Ondel dengan menerapkan ritual
seperti itu masih berlangsung hingga 1980-an. Namun setelah masa itu, proses
ritual tersebut mulai ditinggalkan sejalan dengan bergesernya fungsi
Ondel-Ondel. Para pembuat Ondel-Ondel sengaja membuat rangkanya
dengan anyaman bambu. Tujuannya tentu agar mudah dipikul dan digerakkan oleh
manusia yang menggoyangkannya. Layaknya manusia, Ondel-Ondel juga memiliki
jenis kelamin. Tidak sulit untuk membedakan Ondel-Ondel laki-laki dan
perempuan.
Biasanya wajah Ondel-Ondel laki-laki akan dicat
dengan warna merah. Tidak hanya itu, matanya pun dibuat melotot, ditambah
dengan kumis dan senyuman yang menyeringai. Wajah tersebut dibuat dengan maksud
menimbulkan kesan semangat dan keberanian. Ada pula yang menganggapnya sebagai simbol
kekuatan jahat dan sangar. Sedangkan wajah Ondel-Ondel perempuan akan dicat
dengan warna putih. Ondel-Ondel perempuan juga memiliki mata yang besar, namun
tidak melotot. Mulutnya pun tersenyum manis dengan riasan gincu. Itu dianggap
sebagai symbol kekuatan baik dan kesucian.
Selain dari wajah, Ondel-Ondel juga bisa dibedakan
dari pakaiannya. Ondel-Ondel laki-laki biasanya akan menggunakan baju adat
berwarna gelap, sedangkan Ondel-Ondel perempuan menggunakan warna cerah poloh
atau dengan motif kembang-kembang. Saat dipentaskan Ondel-Ondel harus tampil
berpasangan. Ini ada alasannya tersendiri. Masyarakat betawi mempercayainya
sebagai bentuk keseimbangan antara kekuatan baik dan buruk.
Ketika masa kepemimpinan gubernur DKI Jakarta Ali
Sadikin (1966-1977) Ondel-Ondel dijadikan sebagai boneka seni khas Betawi.
Wajah boneka raksasa itu tampilannya kini tidak lagi seram dan berbau mistis.
Wajah dan gambaran dari Ondel-Ondel masa kini tampak lebih manis dan
bersahabat. Hal itu sejalan dengan fungsi Ondel-Ondel yang berubah menjadi seni
pertunjukan rakyat yang menghibur bagi semua kalangan, termasuk anak-anak.
Ondel-Ondel kini digunakan untuk menambah semarak pesta-pesta rakyat, hajatan
perkawinan atau khinatan, serta untuk penyambutan tamu kehormatan, semisal pada
peresmian gedung yang baru selesai dibangun.
Musik yang mengiringi Ondel-Ondel tidak tentu,
tergantung dari masing-masing rombongan. Ada yang diiringi tanjidor, seperti
rombongan Ondel-Ondel pimpinan Gejen Kapung Setu. Ada yang diiringi dengan
pencak betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh, sekarang
pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diiringi Bende, “Remes”, Ningnong
dan Rebana ketimpring, seperti rombongan Ondel-Ondel pimpinan Lamoh, Kalideres.
Kini, pentas Ondel-Ondel tidak hanya bisa disaksikan
di acara-acara perayaan HUT kota Jakarta. Namun, para seniman Ondel-Ondel juga
sering menampilkannya di jalan-jalan ibukota.
2.2 Analisis
Tempat :
Pasar Gaplok
Narasumber :
Abdul Halif – Sanggar Mami CS
Kami memilih judul video kami Batavia’s Guardian
karena Ondel-Ondel dipercaya warga betawi sebagai nenek moyang atau leluhur
yang menjaga tanah mereka. Dalam video singkat itu kami membahas tentang
sejarah adanya nama Ondel-Ondel yang dulunya berasal dari nama “Barongan”.
Sanggar Mami CS ini sudah ada sejak tahun 1980-an
dulu dirintis oleh Ayah Abdul Halif sendiri, alasan Abdul Halif masih
melanjutkan Sanggar Mami CS ini agar tetap melestarikan budaya Betawi dan
jangan sampai hilang.
Kami juga membahas tentang bagaimana pendapat warga
sekitar tentang pelestarian budaya betawi ini. Seperti biasa selalu ada pro dan
kontra. Ada warga yang tidak ingin jika melestarikan budayanya dengan mengamen
namun ada juga yang berpendapat bahwa dengan mengamen, orang-orang bisa
mengenal Sanggar Mami CS tersebut dan bisa diundang jika ada hajatan dan lain
lain. Dan agar orang-orang juga bisa mengenal Ondel-Ondel ini walaupun terkadang
dengan mengamen mereka ditangkap Dinas Sosial. Yang sering ngarak ondel-ondel
di Sanggar Mami CS adalah anak anak remaja karena mereka ingin mendapat uang
jajan dan untuk membantu membayar uang sekolah mereka.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Walaupun sudah mulai berurang sanggar dan paguyupan
betawi yang berkembang saat ini karena orang asli betawi sudah terpencar ke
berbagai wilayah. Namun masih ada budaya kesenian khas betawi Ondel-Ondel
tersebut. Masih ada anak muda yang ingin melestarikan kesenian Ondel-Ondel ini,
walaupun mereka sering ditangkap dinas sosial karena mengamen di jalanan
Jakarta.
3.2 Saran
Seharusnya
Pemerintah memberikan tempat para pengamen Ondel-Ondel untuk mementaskan
Ondel-Ondel bukan hanya ditangkap dinsos saja. Karena yang mementaskan
Ondel-Ondel di jalanan rata-rata adalah anak remaja para generasi muda bangsa
ini yang hanya ingin melestarikan budayanya untuk mendapat uang jajan serta
uang untuk melanjutkan sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
https://m.cnnindonesia.com/hiburan/20160622182515-241-140178/mengenal-makna-simbolik-ondel-ondel diakses pada Senin, 1 Januari 2018
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi diakses pada Senin, 1 Januari 2018
www.akarnews.com/1529-ondel-ondel-betawi-sejarah-seni-tradisi diakses pada Senin, 1 Januari 2018
Jangan lupa mampir ke youtube kami yahh .. :D Video ISD
Terimakasih sudah berkunjung sahabat, semoga bermanfaat! 😄😄
Jika ada kritik dan saran silahkan komentar dibawah yahhh .. 🙏
Terimakasih sudah berkunjung sahabat, semoga bermanfaat! 😄😄
Jika ada kritik dan saran silahkan komentar dibawah yahhh .. 🙏
![]() |
| Universitas Gunadarma |


Komentar
Posting Komentar